Selasa, 20 November 2012

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence)





Subscribe Facebook resmi kami: Institut Perempuan
Follow Twitter resmi kami: @Instperempuan
Retweet (RT) TimeLine kami
Gunakan hastag: #NOWLindungiTKW-PRT  #16days

Anda juga dapat follow Twitter: @ValentSagala
Dan subscribe Facebook: Valentina Sagala


Apa yang Dimaksud dengan Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan?
Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence) adalah kampanye global untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Kegiatan ini berlangsung selama 16 Hari, dari 25 November (Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan) sampai dengan 10 Desember (Hari Internasional Hak Asasi Manusia/HAM). Rentang waktu ini dimaksudkan untuk secara simbolik menghubungkan kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta menekankan kekerasan terhadap perempuan sebagai salah satu bentuk pelanggaran HAM.
Sebagai organisasi feminis, sejak tahun 1998, kami, INSTITUT PEREMPUAN (IP) telah menjadi bagian signifikan Kampanye ini di Indonesia, dan menjadi inisiator kegiatan ini di Jawa Barat.

Bagaimana Sejarah Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan?
Kampanye ini pertama kalinya digagas pada tahun 1991 oleh Women’s Global Leadership Institute (WGLI)  yang disponsori oleh Center for Women’s Global Leadership (CWGL). Sebanyak 23 peserta berasal dari negara-negara yang berbeda di seluruh dunia dan dari berbagai bidang seperti pengacara, pembuat kebijakan, guru, pekerja kesehatan, peneliti, jurnalis, dan aktivis. Perempuan-perempuan ini adalah pemimpin lokal masyarakat sipil yang setidaknya telah dua tahun berpengalaman mengorganisir perempuan, yang juga tertarik dalam membangun gerakan hak asasi perempuan secara global.
Selama WGLI, peserta mendiskusikan berbagai aspek kekerasan berbasis gender dan HAM, belajar dari pengalaman satu sama lain dan oleh karenanya mengembangkan strategi untuk meningkatkan kesadaran internasional atas sifat sistemik kekerasan terhadap perempuan dan untuk menyingkap kekerasan ini sebagai pelanggaran hak asasi perempuan. Sementara kekerasan terhadap perempuan mengambil bentuk yang berbeda sesuai dengan konteks budaya, masalah terjadi dimana-mana dan bekerja pada isu ini menawarkan kesempatan unik untuk membangun jembatan lintas budaya, untuk belajar dari persamaan dan perbedaan, dan untuk menghubungkan strategi secara global.
Sebagai salah satu strategi untuk membangun kesadaran tentang kekerasan berbasis gender dan memfasilitasi jaringan antara para pemimpin perempuan yang bekerja di area ini, para peserta WGLI membuat Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

Apa Tema Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan?
Tahun ini Center for Women’s Global Leadership (CWGL) sebagai koordinator global  Kampanye 16 Hari merekomendasikan tema global: Dari Damai di dalam Rumah ke Damai di dalam Dunia: Mari Tantang Militerisme dan Mari Akhiri KekerasanTerhadap Perempuan! (From Peace in the Home to Peace in the World: Let’s Challenge Militarism and End Violence Against Women! ). Namun demikian, tentulah hal ini bukan merupakan suatu keharusan yang berlaku di seluruh dunia. Setiap organisasi dapat mengembangkan tema yang beragam setiap tahunnya sepanjang mengenai penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Sebagai contoh, Komnas Perempuan mengangkat tema ”Kekerasan Seksual: Kenali dan Tangani” sejak tahun 2010 hingga 2014.


Untuk Tahun 2012 ini, INSTITUT PEREMPUAN mengusung tema: Perlindungan terhadap Pekerja Migran Perempuan, hastag : #NOWLindungiTKW-PRT


Bagaimana Strategi Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan?
Dalam perkembangannya, Kampanye ini bukan saja menjadi perhatian para feminis dan aktivis perempuan, namun menjadi kerja bersama dan sinergi berbagai pihak (Pemerintah, Swasta, maupun Masyarakat secara umum) dalam upaya menghapuskan kekerasan terhadap perempuan.
Strategi yang diterapkan dalam Kampanye ini beragam sesuai dengan karakteristik dan kekhasan masing-masing daerah (kondisi ekonomi, sosial, budaya, dan politik). Namun secara prinsip ditekankan untuk menggalang gerakan solidaritas berdasarkan kesadaran bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan pelanggaran HAM; mengajak semua orang dari berbagai kalangan terlibat aktif sesuai dengan kapasitasnya dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan; serta mendorong terwujudnya jaminan perlindungan yang lebih baik bagi para survivor (korban yang telah mampu melalui pengalaman kekerasan dan menjadi berdaya).
Selama 16 hari, kami, INSTITUT PEREMPUAN, mengajak Anda untuk bersama:
  • meningkatkan pemahaman mengenai kekerasan terhadap perempuan sebagai isu HAM
  • memperkuat kerja dan jejaring kerja penanganan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan
  • membangun kerjasama yang lebih sistematis dalam penghapusan kekerasan terhadap perempuan, di tingkat lokal nasional, regional dan internasional
  • mengembangkan metode-metode yang efektif dalam meningkatkan pemahaman publik dalam gerakan penghapusan kekerasan terhadap perempuan
  • memperkuat advokasi terhadap Lembaga Penyelenggara Negara agar memenuhi kewajiban menghapuskan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Apa yang Terjadi dalam Rentang Waktu 25 November – 10 Desember ?
  • 25 November : Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan (International Day for the Elimination of Violence Against Women)  
Tanggal ini dipilih sebagai penghormatan atas meninggalnya Mirabal bersaudara (Patria, Minerva, dan Maria Teresa) pada tanggal yang sama di tahun 1960 akibat pembunuhan keji yang dilakukan oleh kaki tangan penguasa diktator Republik Dominika waktu itu, Rafael Trujillo. Mirabal bersaudara adalah aktivis politik yang tak henti memperjuangkan demokrasi dan keadilan, serta menjadi simbol perlawanan terhadap kediktatoran penguasa Republik Dominika. Berkali-kali mereka mendapat tekanan dan penganiayaan dari penguasa yang berakhir pada pembunuhan keji tersebut. Tanggal ini sekaligus juga menandai ada dan diakuinya kekerasan berbasis gender.
Tanggal ini dideklarasikan pertama kalinya sebagai Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan pada tahun 1981 dalam Kongres Perempuan Amerika Latin yang pertama. Sebagai hasil dari pengorganisasian yang ekstensif oleh organisasi-organisasi hak asasi perempuan, pada tahun 1999 Majelis Umum PBB secara resmi menyatakan 25 November sebagai Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan (International Day for the Elimination of Violence Against Women) [A/RES/54/134].
  • 1 Desember : Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day)
Hari AIDS Sedunia pertama kali dicanangkan dalam konferensi internasional tingkat Menteri Kesehatan seluruh dunia pada tahun 1988. Hari ini menandai dimulainya kampanye tahunan untuk menggalang dukungan publik serta mengembangkan suatu program yang mencakup kegiatan pencegahan penyebaran HIV/AIDS, serta pendidikan dan penyadaran akan isu-isu seputar permasalahan AIDS.
  • 2 Desember : Hari Internasional untuk Penghapusan Perbudakan (International Day for the Abolition of Slavery)
Tanggal ini merupakan hari diadopsinya Konvensi PBB mengenai Penindasan terhadap Orang-orang yang Diperdagangkan dan Eksploitasi terhadap Orang Lain (UN Convention for the Suppression of the Traffic in Persons and the Exploitation of Other) dalam Resolusi Majelis Umum PBB No 317(IV) pada tahun 1949. Konvensi ini merupakan salah satu tonggak perjalanan dalam upaya memberikan perlindungan bagi korban, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak, atas kejahatan perdagangan manusia.
  • 3 Desember : Hari Internasional bagi Penyandang Cacat (International Day of Persons with Disabilities)
Hari ini adalah peringatan lahirnya Program Aksi Sedunia bagi Penyandang Cacat (the World Programme of Action concerning Disabled Persons). Program aksi ini diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1982 untuk meningkatkan pemahaman publik akan isu penyandang cacat sekaligus membangkitkan kesadaran akan manfaat yang dapat diperoleh, baik oleh masyarakat maupun penyandang cacat, dengan mengintegrasikan keberadaan mereka dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat.
  • 5 Desember : Hari Internasional bagi Sukarelawan (International Volunteer Day for Economic and Social Development)
Pada tahun 1985 PBB menetapkan tanggal ini sebagai Hari Internasional bagi Sukarelawan. Pada hari ini, PBB mengajak organisasi-organisasi dan Negara-negara di dunia untuk menyelenggarakan aktivitas bersama sebagai wujud rasa terima kasih dan sekaligus penghargaan kepada orang-orang yang telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi masyarakat dengan cara mengabdikan hidupnya sebagai sukarelawan.
  • 6 Desember : Hari Tidak Ada Toleransi bagi Kekerasan terhadap Perempuan (The National Day of Remembrance and Action on Violence Against Women) juga secara informal dikenal sebagai Hari Pita Putih - White Ribbon Day
Tanggal ini awalnya merupakah hari peringatan di Kanada, yang ditetapkan pada tahun 1991 oleh Parlemen Kanada, untuk mengenang pembunuhan massal mengerikan yang terjadi pada tanggal tersebut pada tahun 1989, di Universitas Montreal Kanada, yang menewaskan 14 mahasiswi dan melukai 13 lainnya (13 diantaranya perempuan) dengan menggunakan senapan semi otomatis kaliber 223. Pelaku (laki-laki) melakukan tindakan tersebut karena percaya bahwa kehadiran para mahasiswi itulah yang menyebabkan dirinya tidak diterima di universitas tersebut. Sebelum pada akhirnya bunuh diri, pelaku meninggalkan sepucuk surat yang berisikan kemarahan amat sangat pada para feminis dan juga daftar 19 perempuan terkemuka yang sangat dibencinya.
Sejak diperingati, masyarakat Kanada didorong untuk mengheningkan cipta pada hari tersebut dan memakai sebuah pita putih (atau pita ungu) sebagai komitmen untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan.
  • 9 Desember: Hari Internasional Anti Korupsi (International Anti-Corruption Day)  
Hari Internasional Anti Korupsi diperkenalkan oleh PBB sejak dikeluarkannya United Nations Convention against Corruption pada 31 Oktober 2003. Hari ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran akan korupsi dan peran Konvensi dalam memerangi dan mencegahnya. Konvensi ini mulai berlaku pada Desember 2005.

Meskipun hari ini umumnya belum menjadi bagian secara khusus dalam Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, INSTITUT PEREMPUAN berpendapat sangat penting untuk membangun kesadaran akan pentingnya perhatian dan gerakan anti korupsi dalam penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Bagi
perempuan miskin dan minoritas, korupsi berarti akses yang kecil untuk pekerjaan, keadilan atau kesempatan yang adil dan setara.
Korupsi menghalangi upaya untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial bagi perempuan. Korupsi menghambat pencapaian MDGs yang telah disepakati secara internasional, merongrong demokrasi dan supremasi hukum, mengarah pada pelanggaran HAM, mengurangi kualitas hidup dan memungkinkan ancaman kejahatan terorganisir, terorisme dan lainnya untuk keamanan manusia untuk hidup dan berkembang.
  • 10 Desember : Hari HAM Internasional  (International Human Rights Day)
Hari HAM Internasional bagi organisasi-organisasi di dunia merupakan perayaan akan ditetapkannya dokumen bersejarah, yaitu Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) oleh PBB di tahun 1948, dan sekaligus merupakan momen untuk menyebarluaskan prinsip-prinsip HAM yang terkandung dalam Deklarasi tersebut.

0 comments:

Poskan Komentar